Wednesday, January 3, 2018

TENS (Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation) VS NYERI

Pengertian Nyeri
Setiap kita pasti tidak asing dengan kata nyeri dan juga tidak jarang kebanyakan pasien yang datang ke fisioterapi dengan keluhan nyeri yang sangat membuat mereka merasa tidak nyaman, baik itu pasien yang mengeluh nyeri otot, nyeri sendi ,nyeri/sakit pinggang dan lain sebagai nya.

Nyeri adalah suatu pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang berkaitan dengan kerusakan jaringan yang nyata atau yang berpotensial untuk menimbulkan kerusakan jaringan (Dharmady, 2004).
Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan eksistensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya (Tamsuri, 2007).

Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah pengalaman perasaan emosional yang tidak menyenangkan akibat terjadinya kerusakan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan.

Walaupun nyeri tidak dapat di taksirkan dan tidak dapat diukur secara pasti terapi nyeri merupakan perasaan yang tidak mengenakkan dan menyakitkan dan sifat nya berbeda beda tergantung dari jenis jaringan tubuh yang mengalami nyeri, misalnya nyeri karena ditusuk berbeda dengan saat di tekan. Nyeri dapat dikatakan sebagai kemeng, ngilu, linu, sengal atau pegal. Nyeri yang berasal dari visera bersifat difus, nyeri yang berasal dari otot skeletal biasanya biasa nya identik dengan pegal, nyeri pada sendi/osteogenik biasanya kemeng, linu atau ngilu dan nyeri yang disebabkan oleh kerusakan pada saraf perifer biasanya bersifat tajam (Mahar Mardjono & Priguna Sidharta, 1996).


Mekanisme nyeri adalah perjalanan nyeri termasuk suatu rangkaian proses neurofisiologis kompleks yang disebut sebagai nosiseptif (nociception) yang merefleksikan empat proses komponen yaitu transduksi, transmisi, modulasi dan persepsi, dimana terjadinya stimuli yang kuat diperifer sampai dirasakannya nyeri di susunan saraf pusat (cortex cerebri).

mekanisme nyeri
Gambar. Mekanisme Nyeri
Sumber : napaanestesia.com

  • Proses Transduksi 
Proses dimana stimulus noksius diubah ke impuls elektrikal pada ujung saraf. Suatu stimuli kuat (noxion stimuli) seperti tekanan fisik kimia, suhu dirubah menjadi suatu aktifitas listrik yang akan diterima ujung-ujung saraf perifer (nerve ending) atau organ-organ tubuh (reseptor meisneri, merkel, corpusculum paccini, golgi mazoni).
Kerusakan jaringan karena trauma baik trauma pembedahan atau trauma lainnya menyebabkan sintesa prostaglandin, prostaglandin inilah yang akan menyebabkan sensitisasi dari reseptor-reseptor nosiseptif dan dikeluarkannya zat-zat mediator nyeri seperti histamin, serotonin yang akan menimbulkan sensasi nyeri. Keadaan ini dikenal sebagai sensitisasi perifer.
  • Proses Transmisi
Proses penyaluran impuls melalui saraf sensori sebagai lanjutan proses transduksi melalui serabut A-delta dan serabut C dari perifer ke medulla spinalis, dimana impuls tersebut mengalami modulasi sebelum diteruskan ke thalamus oleh tractus spino thalamicus dan sebagian ke traktus spinoretikularis. Traktus spinoretikularis terutama membawa rangsangan dari organ-organ yang lebih dalam dan viseral serta berhubungan dengan nyeri yang lebih difus dan melibatkan emosi.
  • Proses Modulasi
Proses perubahan transmisi nyeri yang terjadi disusunan saraf pusat (medulla spinalis dan otak). Proses terjadinya interaksi antara sistem analgesik endogen (enkefalin, endorphin, serotonin, noradrenalin) yang dihasilkan oleh tubuh kita dengan input nyeri yang masuk ke kornu posterior medulla spinalis merupakan proses ascenden yang dikontrol oleh otak. Analgesik endogen dapat menekan impuls nyeri pada kornu posterior medulla spinalis.
Kornu posterior sebagai pintu dapat terbuka dan tertutup untuk menyalurkan impuls nyeri untuk analgesik endogen tersebut. Inilah yang menyebabkan persepsi nyeri sangat subjektif pada setiap orang.
  • Persepsi
Hasil akhir interaksi yang kompleks dari proses tranduksi,  transmisi dan modulasi yang akan menghasilkan sesuatu subjektif yang dikenal sebagai persepsi nyeri, diperkirakan proses ini terjadi pada thalamus dengan korteks sebagai diskriminasi dari sensorik.

Pengertian dan Aplikasi TENS
Sejarah munculnya TENS berawal dari laporan Scribonius Largus tentang stimulasi listrik untuk mengontrol nyeri yang digunakan di Yunani kuno, 63 M. Hal ini dilaporkan oleh Scribonius Largus yang sakit dan merasa lega setelah berdiri pada ikan listrik di tepi pantai. Pada 16 sampai abad ke-18 berbagai perangkat elektrostatik digunakan untuk sakit kepala dan nyeri. Benjamin Franklin adalah pendukung metode ini untuk menghilangkan rasa sakit. Pada abad kesembilan belas perangkat yang disebut electreat, bersama dengan perangkat lain yang banyak digunakan untuk mengendalikan nyeri dan penyembuhan kanker. Electreat digunakan hanya sampai pada ke abad kedua puluh karena tidak portabel dan memiliki kontrol terbatas dari stimulus tersebut. Pengembangan dari semua stimulasi listrik tersebut memberi ide dibentuknya TENS yang akhirnya dipakai dan telah dipatenkan di Amerika Serikat pada tahun 1974.
TENS PORTABLE
Gambar.  Alat TENS Portable
Sumber : Zogomedical.com
Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) adalah penggunaan arus listrik yang dihasilkan oleh perangkat untuk merangsang saraf untuk mengurangi rasa sakit. Unit ini biasanya dilengkapi dengan elektroda/pad untuk menyalurkan arus listrik yang akan merangsang saraf pada daerah yang mengalami nyeriAnother theory is that the electrical stimulation of the nerve may help the body to produce natural painkillers called endorphins, which may block the perception of pain.. Rasa geli sangat terasa dibawah kulit dan otot yang diaplikasikan elektroda tersebut. Sinyal dari TENS ini berfungsi untuk mengganggu sinyal nyeri yang mempengaruhi saraf-saraf dan memutus sinyal nyeri tersebut sehingga pasien merasakan nyerinya berkurang.
Gambar. Teori Gerbang Control Nyeri
Sumber : napaanestesia.com

Jenis-jenis Arus TENS :
1. Burst TENS
Spesifikasi Sinyal :
·          Symmetric Rectangular Alternate Current,
·          Biphasic pulsed,
·          Interrupted modulation,
·          Waktu Durasi : 200μS atau ( Simetris 2,5 KHz )
·          Frekwensi : 1 – 10 Hz
Burst TENS jika conventional TENS tidak efektif misalya pada daerah di jaringan yang dalam seperti myofacial pain dan kasus kasus nyeri kronis.

2. Conventional TENS
Spesifikasi Sinyal :
·          Symmetric Rectangular Alternate Current,
·          Biphasic pulsed,
·          Interrupted modulation,
·          Waktu Durasi : 200μS atau ( Simetris 2,5 KHz )
·          Frekwensi : 80 – 100 Hz
Sasaran arus mengaktivasi saraf diameter besar. Serabut yang akan teraktivasi adalah A beta, mekanoreseptor. Sensasi yang ditimbulkan seperti Paraestesia yang kuat dengan sedikit kontraksi. Karakter fisika yang dimiliki adalah frekwensi tinggi dengan intensitas rendah pola kontinyu Conventional TENS
3. Intens TENS
Spesifikasi Sinyal :
·          Symmetric Rectangular Alternate Current,
·          Biphasic pulsed,
·          Interrupted modulation,
·          Frekwensi : 200Hz
·          Interval/Durasi : 0,5 – 2 detik.

4. AL-TENS ( Acupuncture Like TENS )
Spesifikasi Sinyal :
Symmetric Rectangular Alternate Current,
Biphasic pulsed,
Interrupted modulation,
Waktu Durasi                  : 200μS atau ( Simetris 2,5 KHz )
Frekwensi                       :1–10Hz

Cara Penggunaan
·        Persipan pasien (kulit harus bersih dan bebas dari lemak, lotion, krimdan lain-lain),
·        Periksa senses ikulit,
·        Lepaskan semua metal di area terapi,
·        Taruh kedua pad pada daerah yang sakit dan beri jarrak sekitar 2,5cm
·        Jangan menstimulasi pada area dekat/langsung di atas fraktur yg baru /non-union, diatas jaringan parut baru, kulit baru dan orang yang tidak merasakan sensasi.
·        Alat ini akan menimbulkan rasa kesemutan, hal tersebut dapat diatur memalui pengontrol kekuatan impuls listrik.
·        Mulai dari kekuatan kecil, dan kemudian disesuaikan dengan kenyamanan pasien.
·        Waktu lama nya terapi biasa nya 10 – 30 menit.

Cara Penempatan elektroda/pad TENS:
·         Di sekitar lokasi nyeri : Cara ini paling mudah dan paling sering digunakan, sebab metode ini dapat langsung diterapkan pada daerah nyeri tanpa memperhatikan karakter dan letak yang paling optimal dalam hubungannya dengan jaringan penyebab nyeri.
·         Dermatome : Penempatan pada area dermatome yang terlibat, penempatan pada lokasi spesifik dalam area dermatome, penempatan pada dua tempat yaitu di anterior dan di posterior dari suatu area dermatome tertentu.
·        Area trigger point dan motor point

Indikasi & Kontraindikasi
Indikasi
·        Digunakan untuk mengatasi nyeri akut maupun kronis, meliputi :
·        Nyeri akibat trauma, musculoskeletal, sindroma kompresi neurovaskuler, neuralgia, causalgia
·        Nyeri punggung.
·        Nyeri punggung dapat disebabkan oleh sprain atau strain, degenerasi discus, sciatica dan scoliosis.
·        Nyeri sendi. Beberapa contoh keadaan sendi yang dapat diterapi adalah : Arthritis, Tendinitis, Bursitis
·        Nyeri pelvis.
·        Terapi listrik direkomendasikan untuk sistitis interstitial, prostatitis dan nyeri menstruasi/ Dismenorea.
Kontra indikasi
·        Wanita hamil (penggunaan harus dengan pengawasan)
·        Penderita dengan alat pacu jantung dan pin/ring jantung
·        Epilepsi, gangguan kejang dan jantung.
·        Pasien dengan reaksi hiper sensitivitas
·        Luka bakar, luka terbuka dan kelainan kulit seperti eskim
·        Menderita masalah sirkulasi / vaskuler
·        Gangguan sensoris
·        Pasien dengan plate/pen post operasi fraktur.